Skip to main content

Everyone has their own story, so do I

Ada beberapa orang yang berusaha keras untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi. Disisi lain ada juga yang tidak mudah untuk keluar dari universitas untuk dapat menyandang gelar sarjana. Di belahan bumi lain, ada yang sedang berusaha sepenuh hati untuk melanjutkan sekolah ke jenjang magister. Yang lain lagi sedang berpusing- pusing ria mencari pekerjaan. Belum lagi yang tidak terlihat, yang sedang berusaha sepenuh hati untuk mendapatkan pasangan hidup...

Ya, begitulah kira- kira gambaran hidup. Ini hanya dilihat dari satu sisi saja, sisi ideal kehidupan, yang mampu bersekolah bahkan hingga jenjang S2 dengan tidak memandang sisi lain dari kehidupan. Sisi lain seperti apa? Sisi lain dimana ada yang setiap malam menahan dingin karna tak punya selimut, bahkan tak punya rumah. Ada pula yang menggenggam erat perut karna menahan lapar. Yang lain lagi bekerja dari petang hingga petang kembali untuk dapat menghidupi keluarganya..

Setiap manusi memiliki ceritanya masing- masing. Entah cerita yang menyedihkan ataupun cerita yang membahagiakan. Setiap cerita memiliki arti masing- masing bagi setiap orang. Bisa jadi, orang yang terlihat memiliki masalah yang begitu banyak, ternyata dia merasa menjadi orang yang paling bahagia. Semua bergantung bagaimana kita menilai setiap cerita yang kita miliki. Kita menilainya dengan positif ataukah negatif itulah yang nantinya akan mempengaruhi cara kita memandang hidup ini..

Sebenarnya, setiap masalah yang kita hadapi adalah ujian untuk memasuki jenjang yang lebih tinggi dalam kehidupan. Seberapa hebat kita menghadapi atau menyelesaikan masalah tersebut menunjukkan seberapa tinggi kita menaiki level lanjutan di kehidupan ini.

Ingatlah satu hal, sekecil apapun masalah yang membebani kita, tak akan sia- sia karna itu mampu menjadi penggugur dosa- dosa kita. Kurang nikmat apa kalau sudah begini? Ketika kita mendapat masalah, itu berarti Allah sedang menghapuskan dosa- dosa kita, dan Allah sedang melatih kita untuk menjadi pribadi yang siap menghadapi jenjang kehidupan yang lebih tinggi. Siap- siap untuk menjadi orang hebat yang dikurangi beban dosanya. Senantiasa bersyukurlah karnanya...

Intan Permata

Comments

Popular posts from this blog

Jadi Guru?? (Part 2)

 Bismillah.. Mari kita lanjutkan setelah sekian lama dalam diam hehe Jadi, saat sedang dalam kebingungan, tiba- tiba kakakku yang berada di luar kota menghubungiku melalui aplikasi pesan. Dia bertanya padaku, apakah aku bersedia mengajar di SMP khusus putri di dekat tempat tinggalnya karena kebetulan SMP tersebut masih baru dan membutuhkan guru bahasa Inggris. Sejenak, aku merasa seperti mendapat jawaban atas kebingunganku saat ini. Tapi, itu tidak lantas membuatku langsung menerima tawaran dari kakakku karna aku juga belum merasa yakin untuk mengajar. Tidak pernah terbayangkan olehku bagaimana nantinya jika aku mengajar. Dalam hatiku, masih ada keinginan cukup besar untuk tidak menjadi guru. Tapi di sisi lain, ada sedikit keinginan dalam diriku untuk mencoba menyalurkan ilmu yang selama ini aku dapat di bangku perkuliahan. Aku benar- benar bingung kala itu... Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk sholat istikharah dan benar- benar pasrah meminta petunjuk kepada Allah. Aku berdoa a...

The Worldly Life

Bismillah This may be the shortest post I've ever made until now. About this world, I think most of us have known that this is temporary. There'll be the end of this world. We'll surely leave this worldly life, yet we feel so hard to disengage from this world. Why? Cause our desire toward anything in this world is higher than our desire toward the Hereafter. Perhaps. I don't find the reason yet, tbh. But one sure thing is that, everyone shall taste death. Death, that's not the end of our life. That's the start toward the eternal life. The destination will be only two, Paradise or hellfire. Thus, prepare carefully for we're here in this world to get the nicest eternal life, insyaa Allah. May Allah guide us always ❤

Jadi Guru???

Jadi apa saja asalkan jangan GURU! Itulah yang ada di pikiranku 6, 5, 4, 3, 2, hingga 1 tahun yang lalu. Saat pertama kali menginjakkan kaki di universitas dengan jurusan keguruan, saat itu pula aku memastikan bahwa diriku tidak ingin menjadi guru. Kok aneh sih? Ngapain masuk jurusan keguruan dong kalo gitu? Iyaa, aku juga tak habis pikir kenapa aku dulu mengambil jurusan itu. Yang paling melekat di pikiranku hanyalah saat aku mendaftar kuliah dengan rapot dan yang terpikir olehku hanyalah jurusan yang direkomendasikan oleh wali kelasku saat itu, yaa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris... Bisa dibilang aku mengambil jurusan itu karna ketidaksengajaan. Dan saat menjalani hari- hari sebagai mahasiswa pun aku tidak menemukan sedikitpun keinginan untuk mengajar. Mendapat banyak ilmu dari dosen- dosenku mengenai pendidikan, di semester- semester atas, aku mulai berkeinginan untuk nantinya berkecimpung di dunia pendidikan, tapi bukan sebagai guru. Aku ingin bergabung dengan lembaga...